QADHA SHALAT MENURUT EMPAT MAZHAB

QADHA SHALAT MENURUT EMPAT MAZHAB
 
Di
 
S
u
s
u
n
 
Oleh :
 
Kelompok  VIII   :        Mihalul Abrar
                             Irwansyah
                             Jumahdi Andipa
                            
 
Prodi                 : PAI
Semester / Unit  : VII / 1
 
 
Dosen Pembimbing :
Bpk. Muhajir, S.Ag, LLM
 
 
 
   

 

 
 
 
 
 
 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
ZAWIYAH COT KALA LANGSA
TAHUN AKADEMIK 2010 – 2011
KOTA LANGSA
 
 
KATA PENGANTAR
 
 
 
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Fiqh Muqaran  ini  dengan  tema  “Qadha Shalat menurut Empat Mazhab”. Shalawat dan salam kami junjungkan kepangkuan Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.
Makalah Fiqh Muqaran ini merupakan tugas yang harus diselesaikan oleh mahasiswa STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa. Untuk menambah wawasan, pengalaman dan keahlian dalam pemahaman studi Fiqh Muqaran yang diharapkan menjadi tenaga pendidik yang professional dimasa yang akan datang.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang selama ini telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian makalah ini.
Dalam penyelesaian makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dalam segi bahasa maupun susunan kalimatnya. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan penyelesaian makalah dimasa yang akan datang.
Harapan kami semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami pribadi maupun pembaca, khususnya bagi mahasiswa STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa ditahun berikutnya.
 
                                                                                                        
 
 
                                                                                                        
                                                                                                        
 
 
 
DAFTAR ISI
 
 
Halaman
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………      i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………     ii
BAB    I.       PENDAHULUAN ………………………………………………………………     1
                     A.  Latar Belakang ……………………………………………………………….     1
BAB    II.     PEMBAHASAN …………………………………………………………………     2
                     Qadha Shalat menurut Empat Mazhab…………………………………….     2
                     A.  Hal yang Menggugurkan Shalat ……………………………………….     4
                     B.  Hal yang Boleh Mengakhirkan Shalat………………………………..     3
                     C.  Dalil Hadits ……………………………………………………………………     3
                     D.  Qahda Lewat Waktu ……………………………………………………………             4
                     E.   Wajib Qadha yang Tinggal……………………………………………….     5
                     F.   Tidak Wajib Qadha bagi yang Sengaja Meninggalkan Shalat..     6
                     G.  Paparan Ibnu Taimi’ah……………………………………………………..     7
                     H.  Qadha Tidak Wajib Bagi Wanita Haid. ……………………………..     7
                     I.    Cara Mengqadha Salat……………………………………………………..     8
BAB    III.    PENUTUP ………………………………………………………………………….   12
                     A.  Kesimpulan ……………………………………………………………………   12
                     B.  Kritik Dan Saran …………………………………………………………….   13
DAFTAR PUSTAKA                        14
 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
 
A.  Latar Belakang
Kewajiban shalat adalah harga mati yang tak dapat ditawar oleh kondisi apapun selain uzur yang ditetapkan oleh syariat, seperti wanita dalam keadaan haid, nifas, orang gila, mabuk, anak-anak,orang tua yang sudah pikun.
Islam itu tidak pernah memberatkan pemeluknya. Dan salah satu kemudahan diberikan pula pada salah satu ibadah wajib yaitu Shalat. Salah satunya dengan Qadha.
Para ulama sepakat bahwa barang siapa ketinggalan shalat fardhu maka ia wajib menqadha’nya. Baik shalat itu ditinggalkannya dengan sengaja, lupa, tidak tahu maupun karena ketiduran.
Sedangkan wanita haid dan nifas tidak wajib mengqadha’nya walaupun waktunya luas. Sebab kewajiban shalat gugur dari mereka. Mereka, jika tidak wajib mengerjakan secara tepat waktu maka tidak wajib pula mengerjakan secara qadha’. Dan terdapat perselisihan pendapat tentang kewajiban qadha’ atas orang gila, pingsan dan orang mabuk.
BAB II
PEMBAHASAN
SHALAT QADHA’ MENURUT EMPAT MAZHAB
Shalat fardhu atau Shalat lima waktu wajib dilaksanakan tepat pada waktunya, berdasarkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103).
Oleh karena itu, barangsiapa mengakhirkannya dari waktu yang telah ditentukan tanpa ada halangan (uzur), maka ia berdosa. Tetapi, jika dia mengakhirkannya karena suatu halangan, tidaklah berdosa. Halangan-halangan itu ada yang dapat menggugurkan kewajiban Shalat sama sekali dan ada pula yang tidak menggugurkannya sebagaimana akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikut.
A.  Hal-Hal yang Menggugurkan Shalat
Ada sejumlah halangan atau uzur yang dapat menggugurkan Shalat dari seseorang, yaitu :
1.      Haid dan Nifas
Sabda Rasul saw kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Jika tenyata darah yang keluar itu haid, maka hentikanlah Shalat.”
2.Gila
sabda Rasulullah saw, “Beban taklif itu diangkat (oleh Allah) dari tiga golongan: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai dia sadar kembali.” (HR Ahmad, Ashabus Sunan, dan Hakim).
3.Pingsan.
Kewajiban Shalat akan gugur dari orang yang pingsan jika pingsannya berlangsung dalam dua waktu Shalat yang bisa dijamak, seperti seseorang pingsan sebelum masuk waktu Dzuhur sampai dengan matahari terbenam.
4.Murtad
Seseorang yang murtad (keluar dari Islam) kemudian masuk Islam kembali, maka hukumnya sama dengan orang kafir asli, yakni dia tidak wajib mengqadha Shalat. Tetapi, menurut ulama Syafi’i ia wajib mengqadha semua Shalat yang ia tinggalkan ketika murtad sebagai hukuman kepadanya.
B. Hal-Hal yang Membolehkan Mengakhirkan Shalat
       1. Tidur 2. Lupa
C.  Dalil Hadits:
Adapun halangan yang membolehkan seseorang mengakhirkan Shalat dari waktunya, dan tidak berdosa karenanya ialah tidur, lupa, dan lalai.
1. Diterima dari Abu Qatadah, para sahabat menceritakan kepada Rasulullah saw perihal tidur mereka yang menyebabkan tertunda Shalatnya, maka Rasul bersabda, “Sesungguhnya tidaklah termasuk keteledoran karena tidur, tetapi keteledoran itu di waktu terjaga. Karena itu, jika seseorang di antaramu lupa Shalat atau tertidur hingga meninggalkan Shalat, hendaklah ia melakukannya bila telah ingat atau sadar kembali.” (HR Nasa’i dan Timidzi seraya menyatakannya sebagai hadis yang sahih).
2. Dari Anas ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa lupa mengerjakan Shalat, hendaklah mengerjakannya bila telah ingat, dan selain itu tidak ada kewajiban kaffarat yang lain.” (HR al-Khamsah/lima imam hadis).
3. Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Bila seseorang di antaramu tertidur hingga meninggalkan Shalat atau lupa mengerjakannya, hendaknya ia mengerjakannya jika telah ingat, karena Allah berfirman, ‘dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku’.” (Thaha: 14).
4. Dari Abu Qatadah ra, “Pada suatu malam kami bepergian bersama Rasulullah saw, salah seorang di antara kami berkata, ‘Tidakkah lebih baik kita beristirahat ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Saya khawatir kalian akan tertidur sehingga meninggalkan Shalat’. Bilal berkata, ‘Saya akan membangunkan kalian,’ Kemudian tidurlah semuanya. Sementara itu, Bilal menyandarkan punggungnya pada kendaraannya dan nampaknya ia tidak kuat menahan kantuk hingga akhirnya ia tertidur. Kemudian Nabi saw bangun di saat matahari telah naik tinggi, maka beliau bersabda, ‘Hai Bilal mana janjimu?’ Sungguh, saya tak pernah mengalami seperti ini’, jawab Bilal. Nabi bersabda lagi, ‘Allah mencabut roh-roh kalian kapan saja Dia mau, Dia akan mengembalikannya kepadamu kapan saja Dia mau. Hai Bilal, berdirilah dan serukanlah azan Shalat untuk orang banyak’. Kemudian, beliau berwudhu. Ketika matahari telah tinggi dan bersinar terang beliau Shalat dengan berjama’ah bersama mereka.” (HR al-Khamsah, dan redaksi ini adalah redaksi Bukhari dan Nasa’i). Menurut riwayat Ahmad orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah sebaiknya Shalat ini kita kerjakan besok pada waktunya?” Rasul menjawab, “Bukankah Allah telah melarangmu melakukan riba lalu akan menerimanya darimu?”
D.  Qadha lewat waktunya krn uzur: tidur atau lupa
Apabila seseorang mengakhirkan Sholat hingga lewat waktunya, kerana uzur seperti tidur atau lupa, maka wajiblah baginya untuk men-qadla Sholat yang ditinggalkan tesebut. Dan apabila ia meninggalkan Sholat dengan sengaja dan tanpa uzur, maka itu termasuk perbuatan ma’siat, dan wajib baginya meng-qadla Sholat tersebut dan bertaubat.
Dalam sebuah hadist riwayat Muslim, dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda :”Barang siapa tertidur dan meninggalkan Sholat, maka hendaklah ia bergegas Sholat ketika ingat”. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.: Bahwasanya Rasulullah SAW ketika kembali dari peperangan Khaibar, berjalan pada malam hari bersama para sahabat, dan ketika beliau merasakan kantuk, memerintahkan para sahabat untuk berhenti dan beristirahat dan berkata pada Bilal “Berjaga-jagalah malam ini”, kemudian Bilal shalat beberapa rekaat dan berjaga-jaga. Rasulullah SAW tertidur bersama para sahabat, dan ketika mendekati waktu fajar, Bilal bersandar pada kuda tunggangannya sambil menghadap pada arah fajar, Bilal merasakan kantuk dan akhirnya tertidur, tak satupun dari para sahabat terbangun hingga panas matahari mengenai mereka, yang pertama kali bangun adalah Rasulullah SAW, terkejut dan berkata pada Bilal, “Hai Bilal”, kemudian Bilal menjawab “telah menimpa padaku seperti yang menimpa padamu ya Rasul”(kantuk). Kemudian Rasulullah SAW berkata pada para sahabat “Tambatkan tunggangan kalian”, kemudian para sahabat melakukannya. Rasulullah SAW berwudlu dan memerintahkan pada Bilal untuk beriqomat, kemudian Rasulullah bersama para sahabat shalat (qadla) berjamaah dan ketika selesai shalat Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa lupa mengerjakan shalat, maka kerjakanlah shalat ketika Ia mengingatnya, dan sesungguhnya Allah SWT telah berfirman “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”.
E.  Wajib qadla shalat yang ditinggalkan
Ini Menurut Pendapat empat mazhab, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali dan berdasarkan perintah dan tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Pandangan yang mengatakan tidak wajib qadha’ adalah pendapat Imam Ibn Taymiyah, Ibn Hazmin, ia juga diamalkan oleh Umar bin Khattab, Ibn Umar, Umar abd Aziz, Ibn Sirin, dan lain-lain. Hujah mereka: Islam telah mewajibkan solat dan tidak boleh menangguhkannya walaupun sakit, musafir dalam peperangan; ditegaskan oleh Imam Ibn Taymiyah tidak boleh mengqadha’ solat yang tertinggal, cukup dengan taubat dan solat sunat yang banyak untuk menggantikannya.
Orang-orang yang mewajibkan qadha’ berhujjah bahwa jika qadha’ ini diwajibkan atas orang yang lupa dan tertidur, yang keduanya di ma’afkan, maka kewajibannya atas orang yang tidak dima’afkan dan orang yang durhaka jauh lebih layak. Disamping itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat pernah shalat Ashar setelah masuk waktu Maghrib pada perang Khandaq. Sebagaimana yang diketahui, mereka tidak tertidur dan tidak lupa, meskipun sebagian di antara mereka benar-benar lupa, tapi toh tidak mereka semua lupa. Yang ikut mendukung kewajiban qadha’ ini ialah Abu Umar bin Abdul-Barr.
F.  Tidak Mewajibkan Qadha bagi yg menunda shalat dengan sengaja
Golongan Zhahiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Di dalam kitab Ash-Shalat, Ibnul Qayim menyebutkan berbagai macam dalil untuk menolak alasan yang tidak sependapat dengannya. Di antaranya ialah apa yang dapat di pahami dari hadits ini, bahwa sebagaimana yang dituturkan, kewajiban qadha’ ini tertuju kepada orang yang lupa dan tertidur. Berati yang lainnya tidak wajib. Perintah-perintah syari’at itu dapat dibagi menjadi dua macam : Tidak terbatas dan temporal seperti Jum’at hari Arafah. Ibadah-ibadah semacam ini tidak diterima kecuali dilaksanakan pada waktunya. Yang lainnya ialah shalat yang ditunda hingga keluar dari waktunya tanpa alasan.
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Barangsiapa mendapatkan satu raka’at dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar”, sekiranya shalat Ashar itu dikerjakan setelah Maghrib, justru lebih benar dan mutlak, tentu orangnya lebih mendapatkan shalat Ashar, baik dia mendapatkan satu raka’at atau kurang dari satu raka’at atau dia sama sekali tidak mendapatkan sedikitpun darinya. Orang-orang yang berperang juga diperintahkan shalat, meski dalam situasi yang genting dan rawan. Semua itu menunjukkan tekad pelaksanannya pada waktunya. Sekiranya di sana ada rukhsah, tentunya mereka akan menundanya, agar mereka dapat mengerjakannya lengkap degan syarat dan rukun-rukunnya, yang tidak mungkin dapat dipenuhi ketika perang sedang berkecamuk. Hal ini menunjukkan pelaksanaannya pada waktunya, di samping mengerjakan semua yang diwajibkan dalam shalat dan yang disyaratkan di dalamnya.
 
 
G.  Ibnu Taimiyah: Tidak wajib qadha bg yg sengaja meninggalkan shalat
Uraian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang masalah ini disampaikan di dalam ‘Al-Ikhiyarat’. Dia berkata, “Orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, tidak disyari’atkan qadha’ bagi dirinya dan tidak sah qadha’nya. Tapi dia harus memperbanyak tathawu’. Ini juga merupakan pendapat segolongan orang-orang salaf seperti Abu Abdurrahman rekan Asy-Syafi’i, Daud dan para pengikutnya. Tidak ada satu dalil pun yang bertentangan dengan pendapat ini dan bahkan sejalan dengannya. Yang condong kepada pendapat ini ialah Syaikh Shiddiq hasan di dalam kitabnya, ‘Ar-Raudhatun Nadiyyah’.
H.  Qadha tidak wajib bagi yg haid
Sholat yang ditinggalkan karena Haid tidak wajib diqadla. Definisi Ada’ adalah menjalankan ibadah di dalam waktunya. Sedangkan Qadla adalah menjalankan ibadah setelah lewat waktunya.
Para ulama sepakat bahwa barang siapa ketinggalan shalat fardhu maka ia wajib menqadha’nya. Baik shalat itu ditinggalkannya dengan sengaja, lupa, tidak tahu maupun karena ketiduran. Sedangkan wanita haid dan nifas tidak wajib mengqadha’nya walaupun waktunya luas. Sebab kewajiban shalat gugur dari mereka. Mereka, jika tidak wajib mengerjakan secara tepat waktu maka tidak wajib pula mengerjakan secara qadha’. Dan terdapat perselisihan pendapat tentang kewajiban qadha’ atas orang gila, pingsan dan orang mabuk.
Mazhab Hanafi mengatakan: Wajib qadha’ atas orang yang hilang akalnya karena benda yang memabukkan yang diharamkan seperti arak dan seterusnya. Sedangkan orang yang hilang akal karena ping¬san atau gila, maka kewajiban qadha’ itu menjadi gugur dengan dua syarat:            Pertama: Pingsan atau gilanya itu berlangsung terus sampai lebih dari lima kali waktu shalat. Sedangkan kalau hanya lima kali shalat atau kurang dari itu, maka wajib qadha’ atasnya.                                                       
Kedua: Tidak sadar selama masa pingsan atau gilanya itu pada waktu shalat: Kalau ia sadar dan belum shalat, maka wajib qadha’ atasnya.
Maliki: Orang gila dan pingsan wajib qadha’. Sedangkan orang yang mabuk, apabila itu disebabkan oleh barang haram maka ia wajib qadha’, dan jika disebabkan oleh barang halal, seperti orang yang minum susu asam lalu mabuk, maka tidak wajib qadha atasnya.
Hambali: Orang yang pingsan dan mabuk karena benda haram wajib qadha, sedangkan orang gila tidak wajib.
Syafi’i: Orang gila tidak wajib qadha apabila gilanya itu menghabiskan seluruh waktu shalat (dalam satu hari), begitu pula orang yang pingsan dan orang yang mabuk jika pingsan dan mabuknya itu bukan disebabkan oleh minuman keras yang diharamkan. Kalau tidak demikian maka wajib qadha atasnya.
Imamiyah: Orang yang mabuk karena minuman-minuman keras yang diharamkan, wajib qadha’ secara mudak, baik ia meminumnya dengan sadar atau tidak sadar, terpaksa atau dipaksa. Sedangkan orang gila dan orang pingsan, tidak wajib qadha atas mereka.
I.  Cara Mengqadha Shalat
Hanafi dan Imamiyah: Orang yang ketinggalan shalat fardhu, ia wajib mengqadha’ sesuai dengan yang ditinggalkannya itu tanpa mengubah dan menggantinya. Misalnya: Seseorang terhutang shalat sempurna dan hendak mengqadha’nya, padahal ia berada dalam perjalanan, maka ia mengqadha’nya dengan sempurna pula. Dan orang yang terhutang shalat qashar, dan hendak mengqadha’nya, padahal ia tidak dalam perjalanan, maka ia menqadha’nya. dengan Qashar. Begitu pula dengan shalat Jahr (yang disuarakan dengan ke¬ras) atau shalat ikhfat (yang disuarakan pelan). Jika ia mengqadha’ shalat Isya’ dan Maghrib di waktu siang, maka hendaklah dilakukannya dengan suara Jahr, dan kalau ia mengqadha’ shalat Dzuhur dan Ashar di waktu malam, maka hendaklah dilakukannya dengan suara ikhfat.
Hambali dan Syafi’i: Barang siapa hendak mengqadha’ Shalat Qashar yang terhutang atasnya, maka kalau ia berada dalam perjala¬nan di qadha’nya dengan qashar sebagaimana yang ditinggalkannya. Sedangkan kalau ia tidak dalam perjalanan, maka shalat qashar itu wajib di qadha dengan sempurna. Ini berkaitan dengan jumlah rakaat, sedangkan yang berkaitan dengan sir (suara pelan) dan jahr (suara keras) maka Syafi’i mengatakan: Orang yang mengqadha’ shalat Dzuhur di waktu malam, ia wajib melakukannya dengan suara jahr (keras), dan orang yang mengqadha’ shalat Maghrib di waktu siang, ia wajib melakukannya dengan suara pelan.
Hambali mengatakan: Bacaan dalam shalat qadha’ harus dengan suara pelan secara mutlak, baik shalat itu adalah shalat sir atau shalat jahr, baik diqadha’nya pada waktu malam atau pun di waktu siang, kecuali jika ia menjadi Imam dan shalat itu shalat Jahr, dan diqadha nya di waklu malam.
Para ulama sepakat selain para ulama Syafi’i atas wajibnya tertib dalam melakukan qadha’ shalat-shalat yang tertinggal. Shalat yang terdahulu harus di-qadha’ lebih dahulu dari pada yang belakangan. Kalau ia tertinggal shalat Magrib dan Isya’, maka ia harus meng-qadha’ shalat Maghrib lebih dahulu, baru Isya’, seperti halnya dalaa shalat pada waktunya.
Syafi’i mengatakan: Tertib antara shalat yang tertinggal itu hukumnya sunnah, bukan wajib. Orang yang mengqadha’ shalat Isya lebih dahulu, kemudian baru melakukan shalat Maghrib, shalatnya tetap sah.
Barangsiapa tertinggal mengerjakan Shalat, maka wajib mengqadhanya sesuai dengan cara dan sifat-sifat Shalat yang tertinggal itu. Jika seorang musafir yang menempuh jarak qashar tertinggal Shalat yang empat rakaat, ia mengqadhanya dua rakaat, sekalipun dikerjakan di rumah. Tetapi, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, dalam keadaan terakhir ini, ia mengqadhanya empat rakaat, sebab hukum asal Shalat adalah itmam (menyempurnakan Shalat empat rakaat). Karena itu, ketika di rumah, Shalat dengan itmamlah yang harus dikerjakan. Sebaliknya, jika seorang mukmin tidak dalam perjalanan (di rumah) tertinggal Shalat yang empat rakaat, maka ia harus mengqadhanya empat rakaat pula sekalipun dikerjakan dalam perjalanan. Demikian juga, jika ia tertinggal Shalat sirriyyah (yang bacaannya pelan) seperti Dzuhur, maka di waktu mengqadhanya harus secara sirri pula, sekalipun dikerjakan di malam hari. Sebalikmya, jika ia tertinggal Shalat Jahrriyyah (yang bacaannya keras) seperti Shalat Subuh, maka mengqadhanya pun harus keras pula, sekalipun dikerjakan di siang hari. Akan tetapi, menurut ulama Syafi’i yang menjadi patokan adalah waktu di mana qadha itu dilaksanakan. Jadi, seandainya qadha itu dilaksanakan pada malam hari, maka bacaannya harus dikeraskan, sekalipun yang diqadha itu Shalat sirriyyah. Dan sebaliknya, jika di siang hari maka bacaan Shalat harus dipelankan walaupun yang diqadhanya itu Shalat jahriyyah.
Dalam mengqadha Shalat yang tertinggal (Shalat faa’itah) hendaknya diperhatikan tertib urutannya satu dengan yang lain. Qadha Shalat Subuh dikerjakan sebelum qadha Dzuhur, dan qadha Dzuhur sebelum Shalat Ashar. Di samping itu, hendaklah diperhatikan pula urutan Shalat faa’itah dengan Shalat pada waktunya (Shalat haadhirah). Maka, apabila Shalat faa’itah itu kurang dari lima waktu atau hanya lima waktu, Shalat haadhirah tidak boleh dikerjakan dulu sebelum Shalat faa’itah dikerjakan dengan tertib, selama tidak dikhawatirkan habisnya waktu Shalat haadhirah.
Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Ketika Perang Khandaq kaum musyrikin terlalu menyibukkan Rasulullah sampai-sampai empat Shalat tertinggal, dan waktu pun telah larut malam sejalan dengan kehendak Allah. Kemudian, beliau menyuruh Bilal untuk menyerukan azan. Bilal pun menyerukannya lalu membacakan iqamah, maka beliau Shalat Dzuhur, lalu berdiri lagi dan mengerjakan Ashar, berdiri lagi mengerjakan Shalat Maghrib, kemudian berdiri lagi untuk mengerjakan Shalat Isya’.” (HR Tirmidzi dan Nasa’i. Peristiwa ini terjadi sebelum ada perintah Shalat Khauf).
Ulama Hanafi berpendapat, jika seseorang setelah mengerjakan Shalat haadhirah teringat akan Shalat faa’itah yang belum dikerjakannya, batallah Shalat haadhirahnya. Orang itu harus mengerjakan Shalat faa’itah dulu dan setelah itu mengulangi Shalat haadhirah. Namun, menurut ulama yang lain, ia tidak harus mengulangi Shalat haadhirah. Sedang menurut ulama Maliki, sunnah mengulangi lagi Shalat haadhirah setelah mengerjakan faa’itah.
Jika Shalat faa’itah itu enam waktu atau lebih, maka dalam mengerjakannya tidah harus tertib, boleh dikerjakan sebelum Shalat haadhirah ataupun sesudahnya.
Mengqadha Shalat boleh dilakukan setiap saat, kecuali pada tiga waktu yang dilarang Shalat, yaitu ketika matahari terbit, matahari berada tepat di tengah langit (waktu istiwa’), dan ketika matahari terbenam. Juga dalam satu waktu boleh mengqadha beberapa Shalat yang tertinggal, sebab pengertian qadha adalah melakukan Shalat yang telah lewat waktunya.
Mengqadha Shalat wajib dilakukan dengan segera, baik Shalat itu tertinggal karena sesuatu uzur yang tidak menggugurkan kewajibannya ataupun tanpa uzur sama sekali, dan qadha ini tidak boleh ditunda-tunda kecuali ada halangan mendesak seperti bekerja untuk mencari rezeki dan menuntut ilmu yang wajib ‘ain baginya, begitu juga makan dan tidur. Dengan hanya mengqadha Shalat bukan berarti seseorang telah bebas dari dosa (karena menunda Shalat tanpa uzur), tetapi ia masih harus bertaubat, sebagaimana taubat tidak bisa menggugurkan kewajiban Shalat, namun harus disertai mengqadha pula. Hal ini karena salah satu syarat bertaubat adalah menghilangkan perbuatan dosa, sedang orang yang bertaubat tanpa mengqadha belum berarti ia telah menghilangkan perbuatan dosa tersebut.\
Barangsiapa tertinggal sejumlah Shalat, tetapi ia lupa atau tidak tahu persis berapa jumlahnya, maka ia harus mengerjakan qadha sampai merasa yakin bahwa kewajibannya telah terpenuhi.
 
 
Perwakilan Dalam Ibadah
Seluruh ulama sepakat bahwa mewakili orang dalam puasa dan shalat dari orang yang hidup tidak sah sama sekali, baik orang yang diwakili itu mampu (melakukan ibadah tadi) ataupun tidak mampu.
Imamiyah mengatakan: Sah mewakili orang yang sudah meninggal dalam ibadah puasa dan shalat.
Empat mazhab mengatakan: Tidak sah menggantikannya orang yang sudah meninggal sebagaimana tidak sah menggantikan orang hidup.
Empat mazhab sepakat: Mewakili orang lain dalam ibadah haji dari orang yang hidup hukumnya ja’iz (boleh), apabila orang yang diwakili itu tidak mampu melaksanakannya sendiri. Dan boleh pula mewakili orang yang sudah meninggal, selain dari ulama Maliki, mereka mengatakan: Tidak ada atsar (hadis) bagi perwakilan dari orang hidup dan tidak juga dari orang yang sudah meninggal.
Imamiyah dalam hal ini mempunyai pendapat sendiri, berbeda dari mazhab-mazhab lainnya, yaitu: Mereka mewajibkan atas seorang anak mengqadha’ shalat dan puasa yang ditinggalkan oleh ayah me¬reka, tetapi ia antara mereka sendiri terdapat perselisihan pendapat, ada yang mengatakan bahwa si anak tadi wajib mengqadha’ semua yang ditinggalkan oleh ayahnya sekalipun dengan sengaja. Dan ada pula yang mengatakan, si anak hanya wajib menqadha apa-apa yang ditinggalkan oleh ayahnya yang disebabkan oleh halangan sakit atau yang sejenisnya. Dan yang lain mengatakan, si anak tidak wajib mengqadha’ apa-apa yang ditinggalkan oleh ayahnya kecuali yang ditinggalkannya dalam sakit yang membawa kematiannya. Dan sebagian mereka mengatakan, si anak wajib pula mengqadha’ apa-apa yang ditinggalkannya oleh ibunya, sebagaimana ia wajib meng-qadha’’ apa-apa yang ditinggalkan oleh ayahnya tersebut.
BAB III
PENUTUP
 
A.    Kesimpulan
Sholat Qodho’ (Sholat pengganti)Para Ulama Mazhab(Hanafi, Maliki, Hambali, Syafi’i dan Imamiyah) terdapat perselisihan atas orang gila, pingsan, dan orang mabuk.
1. Mazhab Hanafi mengatakan Wajib qodho’ atas orang yg hilang akal karena benda memabukan yg diharamkan seperti arak dan seterusnya.Sedangkan orang hilang akal karena pingsan atauu gila kewajiban qhodo’ gugur dgn syarat :
– Pertama gila atau pingsan berlangsung terus lebih dari lima kali waktu shalat, sedangkan kalau hanya lima kali sholat atau kurang dari itu maka wajib qodho’
– Kedua Tidak sadar selama pingsan atau gilanya itu pada waktu sholat:kalau ia sadar dan belum sholat, maka wajib qodho’ atasnya.
2. Mazhab Maliki: Orang gila dan pingsan Wajib Qodho’,sedang org yg mabuk apabila disebabkan oleh barang haram maka ia wajib qodho’,jika disebabkan oleh barang halal seperti orang minum susu lalu mabuk, maka tidak wajib qodho’ atasnya.
3. Mazhab Hambali : Orang yang pingsan dan mabuk karena benda haram wajib qodho’ sedangkan orang gila tidak wajib.
4. Mazhab Syafi’i : Orang Gila tidak wajib qodho’ apabila gilanya itu menghabiskan seluruh waktu shalat(dalam satu hari), begitu pula pada orang pingsan dan org yg mabuk jika pingsan dan mabuknya itu disebabkan minuman keras yg diharamkan. kalau tidak demikian maka wajib qodho’ atasnya.
5. Mazhab Imamiyah(Syiah) : Orang mabuk karena minuman keras yg diharamkan wajib qodho secara mutlak, baik ia meminumnya dengan sadar atau tidak sadar, terpaksa atau tidakter paksa. Sedangkan orang gila dan pingsan tidak Wajib qodho atas mereka.
 
B.  Kritik Dan Saran
Agar dimasa yang akan datang bisa jauh lebih baik lagi, kita harus lebih banyak belajar dan terus melatih ilmu yang kita peroleh. Kami sadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam segi penulisan maupun susunan kalimatnya. Maka dari itu, sangatlah dibutuhkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Agar penulisan makalah dilain kesempatan bisa jauh lebih baik lagi. Pesan kami jangan pernah berhenti untuk belajar, karena kunci kesuksesan adalah dengan cara belajar dan terus berusaha.
DAFTAR PUSTAKA
 
  • Abduh, Ghanim, 1963, Naqdh Al Isytirakiyah Al Marksiyah, t.p., t.tp
  • Al Baghdadi, Abdurrahman, 1998, Emansipasi Adakah Dalam Islam, Gema Insani Press, Jakarta
  • Hakim, Abdul Hamid,1927, Mabadi` Awaliyah fi Ushul Al Fiqh wa Al Qawa’id Al Fiqhiyah, Sa’adiyah Putera, Jakarta
  • Hasan, M. Ali, 1995, Masail Fiqhiyah Al Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, RajaGrafindo Persada, Jakarta
  • Mahjuddin, 1990, Masailul Fiqhiyah Berbagai Kasus Yang Yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini, Kalam Mulia, Jakarta
  • Uman, Cholil, 1994, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern, Ampel Suci, Surabaya
  • Zallum, Abdul Qadim, 1998, Beberapa Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam : Kloning, Transplantasi Organ, Abortus, Bayi Tabung, Penggunaan Organ Tubuh Buatan, Definisi Hidup dan Mati, Al-Izzah, Bangil
  • Zuhdi, Masjfuk, 1993, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, Haji Masagung, Jakarta

 

Sumber : http://mihalulabrar.blogspot.com/2011/03/qadha-shalat-menurut-empat-mazhab.html

KAJIAN SYAHADAT TAUHID/KEESAAN

KAJIAN SYAHADAT TAUHID/KEESAAN
1. NIAT SYAHADAT
2. RUKUN SYAHADAT
3. BINASANYA SYAHADAT/ BATHAL
4. PENYAKSIAN SYAHADAT.

1 NIAT SYAHADAT
FA’LAM ANNAHU LAAILAHA ILLALLAHWAL AWALU WAL AKHIRU WAL ZAHIRO WAL BATHIN

ASHADUALLAILAHAILLAHU WA ASYHAHADU ANNAMUHAMMADARRASULLAH.

MULAI AWAL KEHIDUPAN DAN AKHIR KEMATIAN DARI ZAHIR MAUPUN BATHIN TETAP TIDAK BERUBAH

IKTIKAT HAQQUL YAAKIN AINULYAKIN KAMALULYAKIN. TETAP DUA KALIMAH SYAHADAT

AGAR ALLAH SENANTIASA MEMELIHARA KEYAKINAN KITA TIDAK BATHAL ATAU BINASA SYAHADAT KITA

DOA;

RABBANA MAA KHALAQ TAHAZA BATHILA PA SUBHAKA PA KINAA AZABANNAR.

PAHALANYA SETUNG HITUNG BINTANG DILANGIT DENGANNIAT MEMELIHARA HAQ MEMELIHARA SYAHADAT.

2.R U K U N SYAHADAT TAUHID

MENG ESAKAN AKAN ZAT ALLAH KAJIAN=TAUHIDUS ZAT . Ilmunya=,MA’ RIFATULLAH.
DALIL= LA ZATUN BI HQQI ILALLAH= tiada ada yang punya zat yang haq selain Allah . KESIMPULAN =Kenal ALLAH.Juga HAMBA Zikirnya Zikir =syir rahasianya= ismu ZAT Nama aslinya: zat Allah. Tersembunyi.Pujinya: mutlak:puji qadim Bagi qadim, Atau. puji Allah bagi Allah Namanya: Kalam qadim. Kajiannya -Ma’rifat,Mengenal Allah :pengenalan Akan Lenyap Dalam Takbiratul Ihram.Takbir, Akan lenyap di dalam husu ses at, husu Akan lenyap Kepada Mabrur, Mabrur, Akan Lenyap Kepada Zat Wajibal wujud Laisa Kamislihi Syai un.

.MENG ESAKAN AKAN SIFAT2 ALLAH.KAJIAN = TAUHIDU SIFAT . Ilmunya= HAQIKAT >>>>>>>>>>>>DALIL= LA SIFATUN BI HAQQI ILALLAH=tiada ada yang punya sipat haq kecuali Allah amalan. Sipat 20. wujud s/d Mutaqallimun hanya milik Allah. Zikirnya;zikir; nyawa rahasianya : ismul azam = Nama perhimpunan: Zahr. Pujinya .Puji Allah Bagi Qadim.Kajianya Mennyempurakan rukun 13 rukun shalat. Rukun 13 Akan Lenyap kepada Syahadat Syahadat Akan Lenyap kepada sifat 20 sifat 20 akan lenyap kepada .Ma’ripat.

. MENG ESAKAN AKAN ASMA ALLAH. KAJIAN=TAUHIDUL ASMA = Ilmunya= TARIQATLA ASMAUN BIHAQQI ILLALLAH= Tiada yang Bernama Hanya allah Amaliahnyasma allah 99 contoh, sabur, sakur . rajak dll haya milik allah. Zikirnya:zikir= hati. Pujinya: puji Muhaddas Bagi Qadim Atau Puji Muhaddas Kepada Qadim. Setelah sempurna Menjaga Kesucian. Wudhu. Wudhu akan lenyap Kepada. Shalat . Shalat Akan Lenyap Kepada Syahadad.

. MENG ESAKAN AP’ALNYA =Ilmunya= Syariat DALIL= LA AF’ ALUN BI HQQI ILLALLAH=tiada yang punya ap‘al-/ Melainkan Allah. Ket. Wala tataharraka illa bi iznillah ,zikirtnya:zikir=lisanPujinya :puji Muhaddas Bagi muhaddas Atau puji hamba. Allah. Kesuciannya. Mandi junub.akan lenyap Kepada.istinja. istinja akan lenyap kepada Wudhu. Jai Saling keterkaitan sama Saling menyempurnaakan.=yangber nama allah itu; Ada zat ,ada sipat ,ada Asma, Ada Ap’al ada Rahasia danAda Rasa.Itulah yang bernama allah I sedangkan Allah Itu Hnya Nama Pangkat PujipujianYang bisa di seru Orang di seluruh AlamDenganPengelan Mahluk allah dahulu , akan utomatis bisa Mengenal Allah . Namanya :Jalan Pemulangan asal Usul. Tapakkaru pi Halki llah: tapakurlah tentang Maluk allah.Wala Tapakkaru pi Zati llah: dan jangan kau pikirkan dulu Zat Allah.Karena nyatanya Kudrat Irad Allah Ta’ ala itu Sabnyat nyata Pada Mahluk,/Hambanya. Ini Didapatnya di Pengalaman rohani.5.Tauhidus zauk= Mengesakan akan Rasa:La zaukun illallah:tiada yg Merasa hanya allah. Walam yazauk walam yardi walam yarpaillah. Barangsipa Siapa mengenal pasti merasa. 6.Tauhidus syir =Meng esakan akan Rahasia Allah, Rahasianya =Ismu ZAT.Ket.Hadirnya rasa.di dalam rasa,dan Hadirnya suhud di dalam rasa. Martabat iniBisa didapat, pada Waktu slalat , Musahadah .Murakabah ,Tapakur,didalam halwat, atau suluk , saat membaca alqur’an dan padawaktu membaca Shalawat Nabi.namanya: zatbah Rasulullah. Akan Naik ke zatbah Ilahiyah/rububiyah. Disebut makom pana naik,panapillah naik kemakom baqa dan baqa billah..apabila sampaike Martabat ini. Dinamai makom= Iza arada syaian ayyakulalahu kun payakun.atau Wama yasahum indarobbim.!! Makom ini kecuali ada ijin Allah, illab iznillah. Kalau masi h ada saja beras. Dan ada uaang dikantung.jangan jangan coba2 Takut Akan istidrat lanjuran allah.jadi !! Rabbakumul a’la .akan menyeruapi Fir’aun. Tetaplah pada pondasi asal Walan a’ maluna Walakum a’ malum. Karena kita semua, Lahaula walakuata illa billah hil alihil aziim.walalhua’lam.

3. BINASANYA SYAHADAT / BATHALNYA SYAHADAD
1. Menyangkal di ciptakan Allah/putus asa
2. menyekutukan Allah
3. Murtad /pindah agama kemudian kembalilagi.
4. Meng ulang ulangi berbuat dosa besar+ besar/ durhaka kpd ibu bapak.

4. PENYAKSIAN SYAHADAD
DALIL ALAS TUBI RABBIKUM QALU BALA ANNAHU LA ILA HAILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH. KETERANG; ASYHADU ALLA ILAHA ILALLAH = PENYARAHAN JASAT MUHDDAS ATAU ZAHIR HANYA MILIK ALLAH, SAKSINYA NYAWA#WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAH= Penyerahan Nyawa SYAKSINYA= TUBUH, NYAWA, ALLAH TA ALA. Sayhdan. HU= PENGAKUAN ALLAH TAALA = BAHWA TUBUH DAN NYAWA MU HAQ KU . QUL SUBHANA RABBY.Untuk menyelusuri ke martabat yang lebih baik Ihtisal ,ilmu wal amaliah itu ihtisal kepada Rasulullah. Murid sanat dari gurunya Guru sanat dari gurunya sampai kepada sahabat sampai kepada rasulullah sampai kepada Allah swt Tanyakanlah kpd guru yang murabbi mursid.Wallahualam. Lahaulawalakuata illa billahil ali hil azim.
YANG HARUS RUTIN HARI HARI.KESUCIAN KUNCI UTAMA
1. MANDI JUBUB ZAHIR BATIN sesuai cara dan niat
2. ISTNJAZAHIR BATHIN sesuai cara,dan niat
3. WUDHU ZAHIR BAHTIN sesuai cara dan niat
4. SYAHADAT ZAHIR BATHIN sesuai dgn 4 tauhid ke esaan.+ rasa & syirYang bikin Gara2
4 kesempurnaan di atas lenyap di istinja lenyap di,wudhu ,lenyap di rukun 13 lenyap di sifat 20 lenyap disyahadat lenyap di Ma rifat lenyap di tahbiratul ihram lenyap di . Mabrur Lenyap di.KET= Kalau 1 s/d 4 sempurna=Hlilang lenyap di dlm kubur kembalikepada Allah
• Mandi junub tdk sempuna putih kuning di dlm kubur utuh.
• Istinja tidak sempurna lamak mungkal di dalam kubur Utuh
• Wudhu tidak sempurna kurus kering di dalam kuburUtuh.
• Syahadat tidak sempurna Hancur lebur bercerai berai di dalam kubur.BUKAN Mayit TetapiBangkai.
INI Tadi cuma salah 1 Tdk sempurna.

Di lanjutkanDengan pengenalan jalan pemulangan kaluberkenan

MENGENAL DIRI SEKALIGUS MENGENAL ALLAH
Dalil.Awaluddin Ma’rifatullah= awal ber Agama Mengenal akan Allah.
Berlakunya sembah Kepada Allah Atas Kenal , kalau tidak kenal Cuma nyebut. Man Arafa Nafsahu fakat Arafa Rabbahu=Barang siapa Mengenaldiri Akan kenal pada Tuhannya.
Dalil : Innalillah= sesungguhnya kita berasal dari Allah Wa ilaihi rojiun=Akan kembali kepada Allah Pembuktian Sesungguhnya kita Berasal Dari Allah.Kata Allah Aku adalah Perbendaharan Yang Ter sembunyi. Aku ingin Terkenal dan dikenal Maka kuciptakan segala alam dan isinya.Kata Allah Aku ingin Melihat diri Di luar diri ku.Sebenarnya sebelun ada langit dan bumi , sebelum ada surga dan NerakaDan juga sebelum Ada Mahluk. Dan allah pun belum di kenal sudah adalahkita.Sekarang ? adanya kita dimana? Adanya kita semua Yaitu didalam Per bendaharan Allah didalam kunhi zat Allah.Sedangkan Allah Masih seorang diri. Apakah roh kita apakah Sama Usia Allah dengan Roh kita .sama2 tiada Awal tiada akhir. Kata Allah Wahai segala Perbendaharaan roh Manusia aku ingin Mencipta Alam perhatikan dan sebut KUN secara ber sama2.
KUN = bersama2 jadi 7 lapais bumi dan isinya tumbuhan dan Binatang didarat dan dilaut.
KUN jadi 7 lapis langit Dan pelanet ,tatasurya.dan Gugusan bintang
KUN jadi Surga .
KUN jadi Neraka.
KUN jadi Malaikat,
KUN lagi Jadi Jin,
KUN lagi Jadi.Iblis.
Sudah 7 x KUN. Kesemuanya ter sebut Kata Allah Adalah Berdiri Sendiri dengan Nyawa Masing2 Kesumuanya aku yang mengendalikannya. Yang sudah diberi tugas sesuai Perjanjian . Sekarang Kata Allah Akuingin Melihat Diriku diluar diriku aku Mau mencitakanAdam.

Dalil: Wahalaqta adama Kasuratihi=Kuciptakan Adam Seperti rupaku Kata Allah Atau Seperti Bentukku atau Seperti aku kata Allah.
Allah Taala Memerintah kan Jibril Untuk Mengambil. Tanah ,angin ,api,dan Air Di Pertengahan dunia. Di negeri Mekkah. Dimana Nanti di bangun ka’ bah Baitullah Oleh Nabi Ibrahin.Proses Penciptaan Adam. Kata Allah Akan kuBuat Adam Seperti Ujud ku Kata Allah Baik bilang Malaikat. Setelah Adam Di Bentuk Persis Allah Ta ala Maka Allah Ta ala Meniupkan Roh Kepada Adam Lalu adam Bersin , apa gerangan Yang Terjadi. Adam Cuma bisa Bernapas saja . Nama Nafasnya idaf . wahai jibril Aku Sudah Bisa Melihat diriku diluar diriku, Allah Taala sangat senang.Walaupun sudah .hidup .Namun adam Masih Belum Bisa ber jalan dan Bergerak ,berkata, balum bisa Mendengar dan Merasa. Masih kaku adam.Hai jibril Bagai mana ini ? adam tidak bias apa2. Sekarang Kata Allah KUN Sempurnalah adam. Setelah diKun adamTetap Saja Belum sempurna..Kata Allah Whai jibril >Kamu diam2 Saja AKU AKAN BER TAJALI di ujud Adam Biar Adam Sempurna.Biar Aku Gaib diri Adam Dan Aku ingin Di kenal dan Terkenal. Aku akan Menjadi Rahasia Diri Manusia . dan aku Akan Meneteskan Per bandaharan zatKU melewati Sulbi Adam.Setelah Adam Sudah sempurna Adam Tinggaldi dalam surga. SeOrangdiri.Bagaimana Biar Adam Tidak Kesepian disurga status Adam Belum Tau entah Laki Entah bini jadi adam yatim tidak punya bapa tidak punya ibu .jadi adam itu binnya siapa?Sulbi Adam Belum Memanjang.Adam Maliku jasat: adam raja sekalian jasat.Muhammad Malikul Arwah: Muhammad Raja sekalian rohAllah Malikul zat :Allah raja sekalian zat.Sekarang adam ditidurkan Oleh Allah . adam tidur pulas . dengan ,kuasa Allah di cabutlah Tulang rusuk Adam di sebelah kiri. Dijadikanlah SITI HAWA Nur sia permula asal.Sekarang adam tidak kesunyian lagi disurga , dan Adam dimuliakan Para Malaikat dan kalangan jin Kenapa ? Sebab Hanya Bangsa malaikat Yang Melihat allah Ta’ala ber tajali Penuh Kediri adam . Karena ADAM dimuliakan Betul oleh Malikat. lalu iblis iri Dengki ,sama Adam Dan Hawa , Lalu iblis menipu daya adam. Apa seba nya iblis Mau menipu daya adam Sebenarnya caranya Allah Taala Aja ingin dikenal dan terkenal biar cepat turun kebumi adapun iblis diciptakan dari Api. Dia disipati Allah Al Mutakabbirin.+takbur..
Sebenarnya adam Mau dikirim Kebumi sebagai Halifah dimuka bumi. Wakil Allah dimuka Bumi. Jadi Alwakil dengan albathin :adalah satu.
Dalil+ zahirro Rabbi fi Bathini Abdi.= zahir Allah pada bathin hambanya. Lalu Adam di beri : Nama2 segala sesuatu
dalil+wa adamul Asma Akullaha. Wa adamu sifat akullaha, adamu wujut akullaha. Wadamu syir akullaha. Adamu zauk akullaha.
Jadi adam di beri segala nama segala sifat segala rahasia, segala rasa.Wal Hasil Iblis Menggoda, Mau me makan akan buah huldi , lalu terbukalahNapsu birahi. Sulbi adam Memanjang .sulbi sitiHawa tabuka . lalu tidakPantas lagi tingggal disurga.
Lalu dengan izin Allah, adam turun Kedunia bersama sama2 ada tiga Unsur Didiri Adam. TUBUH. NYAWA. ALLAH TA ALA. YANG TIDAK bisa dipisah kan adam dan hawa di bekali Rasa surga Jannatun Naim biar dia Ingat pulang kesurga. Yaitu Rasanya Pada Waktu Adam Kumpul sama hawa di dunia. Waktu kita kumbul isteri disini .Kalilam mayaskurun .atas nikmat surga jannatun naim.Sekarang diri kita ada di perbendaharaan adam Yaitu gaib Di sulbi adam sulbi nuh ,terus sulbi Ibrahim sampailah ke sulbi Abdullah. Dikandung rahim sitiAminah. Lahirlah Rasulullah SAW. Di kota mekah.Jadi kita gaib dari sulbi kesulbi 25 nabi Menyebar SampaiKesulbi Orang tua kita. Lahirlah kita .sama unsurnya ilal Asli .
3Unsur jasat, roh, dan Allah ta’ala.Satu Batang Tubuh. Ket. Mencari Allah diluar diri Syirik Mencari Allah Didalam Diri Jindik. Misal Kapas Brlindung Di benang Benang Berlindung di kain. Seakan2 Kapas dan Benang tidah nampak. YangNampak Adalah Kain.Atau gaib Allah Yang nya ta Hamba. Sebab Terdinding kita Kepada Allah, Selain Ujud Allah. Masih ada Rasa ujud kita. Selain sipat Allah Masih ada Rasa sipat kita.
Misal Ujud Artinya Ada Mustahil tiada Berarti nyata ADA. Lawannya Adam.Tiada.Berarti Adam Cuma Hanya Nama saja yang ada Allah Taala saja. Sekrang AllahTa ala tidak Bisa menyamar lagi. Sandiwara Allah taala sudah Ketahuan Berani lah ngomong Begitu . Allah Taala Sangat senang sekali Kalau kita mengenali Dia. Daripada kita tdk Kenal terdinding Merupakan Najis Hidapan Allah.Unsur Manusia : ada tubuh. Ada roh/nyawa/ ada Allah Ta’ala
Rasulullah Berkata: Tiada ada kulihat Pada Hamba itu :Melainkan Allah Taala Zahir dan Bathinnya.
Abu Bakar berkata: tidak kuliahat sesuatu Pada hamba: malainkan allah taala dahulunya.
Umar Berkata :tidak kulihat sesuatu Pada Hamba: Melainkan Allah Taala sertanya.
Usman Berkata :Tadak kulihat sesuatu Pada Hamba :Melainkan allah Taala Dalamnya.
Syaidina ali berkata:tidak kulihat sesuatu Pada hambanya Melain kan Allah Kemudiannya.Sesungguh nya kita berasal dari Allah. Apa bila Berasal dari allah Pasti adalah Allah. Allah Taala alzahir : yang disipatinya Lahaula walaku wata illa billah il ali helazim. Apabila tidak bisa menyatakan yang zahir . apalagi menyatakan yang Batin. Sebenar nya Allah Taala Cuma pinjam Nama saja yaitu: nama > ahmad . nama: Nor Muhammad,Nama Adam. Dan Nama2 kita semua.
Sebenarnya Manusia itu tinggal cerita saja.
Sipat. Ujud Artinya Ada Mustahil tiada Ber arti nyata ada. Lawannya mustahil Adam: artinya Tiada. Jadi siapa yang ada?Contuh Laisa: rupa ,suara, kelakuan, dan sidik jari . ada yang samada seluruh alam dunia ataupun di akhirat . Itulah yang di sebut Mnusia.Missal: ada tubuh ada roh saja: coma bisa bernapas saja .suara .pendengaran, kata2 tdk bisa. Kalau ada tubuh ada roh ada allah. Maka sempurnalah semuanya sebagai manusia. Pi Ahsani Takwin.Itulah Yang di Namai Umat muhaammad Hammba AllahKebanyakan Orang yang terdinding dengan allah karena sangat dekatnya.ahirnya tidak kenal. Dikiranya allah Ta’ala ada di atas langit Habarnya Waktu mi’rat Nabi bertemu dengan Allah Di sidratul Muntaha. Dianggapnya Allah Taala batinggal di ataslangit. Sebenarnya dimana hambanya berada disitulah allah. Kebanyakan orang Memaham Allah satu Bersama sama menyembahnya bukan begitu kalau begitu missal ada seribu orang yang kenal :akan bias di perkenalkan. Allah itu sangat bisa dikeanal Tetapi tidak bisa di perkenalkan sepada siapa pun Karena sipatnya Laisa tidak sama satu sama lainnya., Kepada ujud Hambanya. Tubuh ,jawa, allah Ta’ala satu batang tubuh. Masing di beri sesambahan. Mulai biajal kita.Jadi kita sembahyang itu allah Ta ala Memuji dirinya . puji kadim Bagi Kadim Atau puji allah bagi allah Bagi Yang sudah kenal .kalau belum kenal .Puji Muhadas Pada muhaddas. Ampun Ma af Mudah2 an Bermampatat Bagi diri saya dan keluarga. dan besar mampaatnya untuk sahabat rekan2 dan Orang lain.Amin.3

Diposkan oleh w0n964nt3n9

MAKNA AKSARA JAWA

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan).• Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.• Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Ilahi) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.• Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.Makna Huruf HANACARAKA

  1. Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
  2. Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
  3. Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
  4. Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
  5. Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
  6. Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
  7. Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
  8. Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
  9. Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
  10. La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
  11. Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
  12. Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
  13. Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
  14. Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
  15. Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
  16. Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
  17. Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
  18. Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
  19. Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
  20. Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia


Dalam kisah AJISAKA

ha na ca ra ka Dikisahkanlah tentang dua orang abdi yang setia
da ta sa wa la Keduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi
pa da ja ya nya Mereka sama-sama kuat dan tangguh
ma ga ba tha nga Akhirnya kedua abdi itu pun tewas bersamaAksara Jawa ha-na-ca-ra- ka mewakili spiritualitas orang Jawa yang terdalam: yaitu kerinduannya akan harmoni dan ketakutannya akan segala sesuatu yang dapat memecah-belah harmoni. Konon aksara Jawa ini diciptakan oleh Ajisaka untuk mengenang kedua abdinya yang setia.Dikisahkan Ajisaka hendak pergi mengembara, dan ia berpesan pada seorang abdinya yang setia agar menjaga keris pusakanya dan mewanti-wanti: janganlah memberikan keris itu pada orang lain, kecuali dirinya sendiri: Ajisaka. Setelah sekian lama mengembara, di negeri perantauan, Ajisaka teringat akan pusaka yang ia tinggalkan di tanah kelahirannya. Maka ia pun mengutus seorang abdinya yang lain, yang juga setia, agar dia pulang dan mengambil keris pusaka itu di tanah leluhur. Kepada abdi yang setia ini dia mewanti-wanti: jangan sekali-kali kembali ke hadapannya kecuali membawa keris pusakanya. Ironisnya, kedua abdi yang sama-sama setia dan militan itu, akhirnya harus berkelahi dan tewas bersama: hanya karena tidak ada dialog di antara mereka. Bukankah sebenarnya keduanya mengemban misi yang sama: yaitu memegang teguh amanat junjungannya? Dan lebih ironis lagi, kisah tragis tentang dua abdi yang setia ini selalu berulang dari jaman ke jaman, bahkan dari generasi ke generasi.

UNEN UNEN JAWA
*pamulange sangsarane sesami = pelajarannya sengsaranya sesama
*sakti tanpa aji = berhasil tanpa sarana
*sugih tanpa banda = bisa menginginkan apa saja tanpa persiapan
*ngluruk tanpa bala = menyusup tanpa teman, tetapi selalu mendapatkan hasil
*ngasorake tanpa peperangan = menang tanpa menggunakan kekerasan/perang (objek)apa kang sinedya teka,apa kang kacipta dadi = apa yang diinginkan/diamaui akan terjadi/ tercipta.
*Digdaya tanpa aji = sakti tanpa ajian
*Trimah mawi pasrah = menerima dengan menyerah
*Suwung pamrih tebih adjrih = sepi hasrat jauh dari takut
*Langgeng tan ana susah tana ana bungah= tenang tetap hidup nama
*murid gurune pribadi = murid gurunya pribadi

Diposkan oleh w0n964nt3n9

Pujian Allah kepada HambaNya

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Puji ada 4 macam, yaitu :

1. Qodim ala Qodim : pujian Allah kepada Allah sendiri sendiri. Contohnya banyak kita jumpai di Alqu’an, semisal :

(Qs. Al Baqoroh : 30) إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Aku lebih tau apa yang tidak kalian ketahui”

2. Qodim ala hadits : pujian Allah kepada mahluknya. Contohnya dalam ayat :

(Qs. Al Qolam : 4) وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيم

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar di atas budi pekerti yang luhur”

3. Hadits ala Qodim : pujian mahluk kepada Allah. Sebagai umat Islam tentunya harus sering melakukan ini. Semisal ucapan kita “Ya Allah.. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyayang”.

4. Hadits ala hadits : pujian mahluk kepada mahluk lainnya, seperti ucapan kita kepada kerabat kita “Kamu baik banget” atau semisal “Tambah cantik kamu sekarang” atau mungkin “Indah sekali pelanginya” dan sebagainya.

Dan segala puji di atas hanyalah milik Allah. Qodim ala Qodim, hadits ala Qodim milik Allah karena memang jelas pujian tersebut teruntuk Allah. Qodim ala hadits, hadits ala hadits juga milik Allah karena dengan memuji suatu karya berarti memuji penciptanya. Bila kita mengatakan “Keren ni lukisan” maka hakikatnya kita memuji seniman yang telah membuat lukisan tersebut.

Yang menarik di sini adalah pujian Allah kepada Nabiyyuna Muhammad SAW yang telah tersebut di atas yaitu :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيم

 

Pada Ayat tersebut sangat nampak betapa Allah bersungguh-sungguh dalam memuji mahluknya yang bernama Muhammad tersebut. Dalam Ayat tersebut Allah mengukuhkan pujian dengan Inna (sesungguhnya). Tidak hanya Inna, bahkan Allah menambah huruf pengukuh lain yaitu lam yang artinya “benar-benar”. Dua huruf pengukuhan dalam satu kalimat ini menunjukkan bahwa lafadl yang setelahnya disebutkan merupakan hal yang nyata adanya.

Allah juga menggunakan perangkat I’rob Jer berupa ala (di atas). Ini menunjukkan bahwa sesuatu dari Muhammad berada di atas di bandingkan mahluk-mahluk lain. Nah yang berada di atas apa? Yang berada di atas adalah Ahlak yang luhur. Lafadl “khuluqun” merupakan jama’ dari lafadl “ahlakun”.

Maka jelas sudah betapa Allah bersungguh-sungguh memuji Nabi Muhammad SAW. Maka seyogyanya kita sebagai umat dari Nabi Muhammad yang menghamba kepada Allah memuji beliau, mencintai beliau dan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber : http://filsafat.kompasiana.com/2012/02/05/pujian-allah-kepada-hambanya-436414.html

Hello world!

Hello world!